Labuan Bajo — Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian terus memperkuat pengelolaan Sentra IKM ITA Bajo dan Sentra IKM Tenun Molas Poco. Penguatan tersebut tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi, tetapi juga pada perluasan pasar, peningkatan nilai aset, penciptaan manfaat ekonomi bagi masyarakat, dan kemandirian usaha.
Sebagai bagian dari transformasi tersebut, Disdagrin menyiapkan SIKAMBA MABAR—Sistem Industri Kreatif, Anyaman, Makanan, dan Bina Usaha Manggarai Barat—sebagai kanal publikasi dan promosi digital resmi produk IKM daerah.
SIKAMBA MABAR merupakan gagasan aktualisasi Latsar CPNSD yang dikembangkan Abdul Hamid Fathurrohman, S.TP., Pengawas Industri pada Disdagrin Kabupaten Manggarai Barat. Platform ini diharapkan menjadi jembatan yang mempertemukan produk IKM lokal dengan masyarakat, wisatawan, hotel, restoran, toko oleh-oleh, pelaku MICE, pasar modern, dan calon mitra usaha.
Empat Indikator Keberhasilan Pemberdayaan
Pengembangan SIKAMBA MABAR dikaitkan dengan teori keberhasilan pemberdayaan ekonomi kerakyatan dari Prof. Dr. I Nengah Dasi Astawa. Menurut teori tersebut, keberhasilan pemberdayaan UMKM, koperasi, dan kelompok masyarakat harus dilihat dari empat indikator:
- usaha atau aktivitas ekonomi berkelanjutan;
- terjadi peningkatan nilai aset;
- memberikan efek ganda; dan
- mampu memenuhi kewajiban.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Manggarai Barat, Adrianus Ojo, S.Si., Apt., menegaskan bahwa keberhasilan pemberdayaan IKM tidak cukup dinilai dari pembangunan gedung sentra, penyerahan mesin, pelaksanaan pelatihan, atau banyaknya produk yang dipamerkan.
“Keberhasilan yang sesungguhnya harus terlihat ketika usaha terus berproduksi, produk terjual, aset pelaku bertambah, masyarakat sekitar memperoleh manfaat, dan hasil usaha mampu membiayai seluruh kewajibannya. SIKAMBA MABAR harus membantu kita bergerak menuju ukuran keberhasilan tersebut,” tegas Adrianus Ojo.
ITA Bajo: Hilirisasi Ikan Harus Bertemu Pasar
Sentra IKM ITA Bajo memiliki posisi strategis dalam hilirisasi hasil perikanan Manggarai Barat. Berbagai produk telah dikembangkan, antara lain bakso ikan, nugget ikan, dan abon ikan. Tiga produk olahan ITA Bajo juga telah memperoleh izin edar BPOM, sehingga memiliki fondasi legalitas dan mutu untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Namun, produksi dan legalitas belum menjadi hasil akhir. Produk tersebut harus mudah ditemukan, dikenal, dipesan, dan dibeli secara berulang.
Melalui SIKAMBA MABAR, produk ITA Bajo dapat ditampilkan dengan informasi yang terverifikasi, meliputi:
- nama dan foto produk;
- jenis serta ukuran kemasan;
- legalitas produk;
- harga terkini;
- kapasitas produksi;
- lokasi usaha;
- kontak pemesanan; dan
- tanggal pembaruan informasi.
Kehadiran kanal digital ini diharapkan membantu ITA Bajo memperoleh pelanggan tetap, meningkatkan frekuensi produksi, dan memperluas jaringan pemasaran. Jika produksi berlangsung secara rutin, penjualan meningkat, dan pendapatan mampu membiayai bahan baku, tenaga kerja, listrik, kemasan, distribusi, serta pemeliharaan mesin, maka indikator keberlanjutan dan kemampuan memenuhi kewajiban mulai tercapai.
Peningkatan pemasaran ITA Bajo juga berpotensi memberikan efek ganda kepada nelayan, pemasok ikan, tenaga pengolahan, produsen kemasan, jasa transportasi, toko oleh-oleh, hotel, restoran, dan pelaku pariwisata.
Molas Poco: Tenun, Pemberdayaan Perempuan, dan Pariwisata
Sentra IKM Tenun Molas Poco di Kecamatan Lembor memiliki kekuatan pada keterampilan menenun, motif tradisional, pewarna alam, dan kreativitas mengembangkan produk turunan. Selain kain tenun, pelaku sentra menghasilkan pakaian, tas, topi, perhiasan, dan beragam aksesori berbasis tenun Manggarai.
Sentra ini tidak hanya mempunyai nilai ekonomi. Molas Poco juga menjalankan fungsi sosial dan budaya melalui pemberdayaan perempuan, regenerasi penenun muda, penciptaan peluang kerja bagi penjahit dan pengrajin, pelestarian motif tradisional, serta pengembangan wisata edukasi.
SIKAMBA MABAR diharapkan memperluas jangkauan pasar produk Molas Poco. Wisatawan dan calon pembeli dapat mengenal cerita di balik motif, melihat variasi produk, mengetahui harga dan ketersediaan, serta terhubung langsung dengan kontak usaha yang telah diverifikasi.
Promosi digital juga dapat membuka peluang pemesanan untuk kebutuhan hotel, seragam, suvenir, kegiatan pemerintahan, pertemuan, insentif, konvensi dan pameran, serta pasar fesyen di dalam maupun luar daerah.
Jika perluasan pasar tersebut menghasilkan kenaikan penjualan, penambahan alat produksi, peningkatan modal kerja, pertumbuhan tabungan kelompok, dan bertambahnya pendapatan anggota, maka SIKAMBA MABAR turut berkontribusi terhadap peningkatan nilai aset Sentra Tenun Molas Poco.
Bukan Sekadar Etalase Digital
SIKAMBA MABAR tidak diarahkan menjadi sekadar kumpulan foto produk atau katalog digital yang cepat kedaluwarsa. Platform ini harus dibangun sebagai kanal promosi berbasis data yang valid, mudah diperbarui, digunakan masyarakat, dan dapat dilanjutkan oleh organisasi setelah masa aktualisasi Latsar selesai.
Dalam tahap awal, pengembangannya diarahkan pada pilot sebanyak 20–30 produk yang paling siap. Sentra IKM ITA Bajo dan Sentra Tenun Molas Poco dapat menjadi lokus prioritas karena mewakili dua potensi unggulan Manggarai Barat, yaitu industri olahan pangan berbasis perikanan serta industri kreatif berbasis tenun dan kebudayaan.
Setiap produk yang ditampilkan harus mempunyai identitas produk, sumber data, status validasi, tanggal pembaruan, dan penanggung jawab. Harga, legalitas, kapasitas produksi, kontak, serta informasi pemesanan harus diperiksa sebelum dipublikasikan.
SIKAMBA MABAR juga harus terhubung dengan sistem pendataan internal Disdagrin. E-Profil IKM ditempatkan sebagai sumber data internal, sedangkan SIKAMBA MABAR menjadi kanal publik yang menampilkan data promosi terpilih. Pembagian tersebut penting untuk mencegah duplikasi pencatatan dan perbedaan informasi.
“Ukuran keberhasilan SIKAMBA bukan sekadar aplikasinya selesai. Yang harus dibuktikan adalah produk memiliki data yang valid, mudah ditemukan calon pembeli, memperoleh pertanyaan atau pesanan, diperbarui secara rutin, dan tetap dikelola setelah aktualisasi berakhir,” jelas Adrianus Ojo.
Dari Publikasi Menuju Transaksi
Disdagrin mengarahkan agar pemanfaatan SIKAMBA MABAR dievaluasi secara bertahap. Pada tahap awal, indikatornya mencakup jumlah produk yang memiliki data valid, kelengkapan profil, ketepatan pembaruan, jumlah pengguna, dan respons masyarakat.
Pada tahap berikutnya, evaluasi harus berkembang hingga mengukur:
- jumlah permintaan informasi dan pemesanan;
- pertumbuhan volume serta nilai penjualan;
- jumlah pelanggan tetap;
- jumlah kemitraan dengan hotel, restoran, toko oleh-oleh, dan pasar modern;
- peningkatan penggunaan bahan baku lokal;
- pertambahan tenaga kerja;
- peningkatan nilai aset pelaku usaha; dan
- kemampuan sentra membiayai kewajibannya.
Dengan demikian, SIKAMBA MABAR bukan hanya menjadi media komunikasi pemerintah, melainkan instrumen yang menghubungkan promosi, transaksi, pemantauan kinerja, dan pengambilan kebijakan pemberdayaan IKM.
Mendorong Sentra yang Mandiri dan Berdampak
Pemerintah daerah tetap berperan dalam pendampingan legalitas, peningkatan mutu, penguatan kemasan, standardisasi, pengembangan keterampilan, penyediaan data, promosi, serta fasilitasi kemitraan.
Namun, sentra IKM juga harus tumbuh menjadi kelembagaan usaha yang mampu mengelola produksi, pemasaran, keuangan, aset, dan kewajiban secara bertanggung jawab.
“Bantuan harus berubah menjadi kapasitas produksi. Produksi harus berubah menjadi penjualan. Penjualan harus menghasilkan keuntungan. Keuntungan harus meningkatkan aset dan kesejahteraan anggota. SIKAMBA MABAR disiapkan untuk memperkuat mata rantai dari produk menuju pasar tersebut,” tutup Adrianus Ojo.
Melalui kolaborasi pemerintah, pelaku IKM, perguruan tinggi, dunia usaha, sektor pariwisata, dan masyarakat, Sentra IKM ITA Bajo diharapkan berkembang menjadi pusat hilirisasi hasil perikanan yang produktif. Sementara itu, Sentra Tenun Molas Poco diarahkan menjadi pusat produksi, inovasi, pelestarian budaya, dan wisata tenun yang semakin berdaya saing.
SIKAMBA MABAR: Produk Lokal Dikenal, Pasar Terbuka, Sentra Berkelanjutan, dan Masyarakat Semakin Berdaya.