Disdagrin Manggarai Barat dan CoE CBSA Universitas Brawijaya Inisiasi Kerja Sama Pengembangan IKM Berbasis Inovasi Berkelanjutan

Disdagrin Manggarai Barat dan CoE CBSA Universitas Brawijaya Inisiasi Kerja Sama Pengembangan IKM Berbasis Inovasi Berkelanjutan
Disdagrin Manggarai Barat dan CoE CBSA Universitas Brawijaya Inisiasi Kerja Sama Pengembangan IKM Berbasis Inovasi Berkelanjutan

Labuan Bajo, 28 Juli 2026 – Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Manggarai Barat menerima kunjungan dan melaksanakan pertemuan bersama tim Center of Excellence Community-Based Sustainable Agroindustry (CoE CBSA), Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem Universitas Brawijaya, dalam rangka menginisiasi kerja sama pengembangan industri kecil dan menengah berbasis potensi lokal, teknologi tepat guna, serta prinsip keberlanjutan.

Pertemuan ini menjadi langkah awal untuk membangun sinergi strategis antara Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat dan perguruan tinggi dalam memperkuat daya saing IKM, mempercepat hilirisasi produk unggulan daerah, meningkatkan pemanfaatan hasil riset, serta mengembangkan inovasi yang dapat diterapkan secara langsung oleh pelaku usaha dan masyarakat.

CoE CBSA merupakan pusat unggulan yang berfokus pada pengembangan agroindustri berkelanjutan berbasis masyarakat. Bidang pengembangannya meliputi pengelolaan limbah organik, bioproses, bioenergi, biorefinery, ekonomi sirkular, teknologi sumber daya hayati, serta pengembangan teknologi tepat guna dan pemberdayaan masyarakat. Pusat unggulan ini juga berperan sebagai penghubung antara perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, industri, dan mitra strategis.

Melalui kerja sama yang sedang diinisiasi, keunggulan akademik, hasil penelitian, kapasitas laboratorium, dan pengalaman pendampingan Universitas Brawijaya diharapkan dapat diintegrasikan dengan kebutuhan riil pelaku IKM di Kabupaten Manggarai Barat.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Manggarai Barat menyampaikan bahwa kolaborasi dengan perguruan tinggi merupakan bagian penting dari upaya mempercepat transformasi sektor industri daerah.

Menurutnya, pengembangan IKM tidak cukup hanya dilakukan melalui pemberian bantuan peralatan atau pelatihan dalam jangka pendek. Pelaku IKM juga membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan, penguatan manajemen usaha, inovasi proses produksi, standardisasi produk, pengembangan desain dan kemasan, akses pasar, serta penerapan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas masing-masing usaha.

“Kolaborasi dengan Universitas Brawijaya diharapkan menghasilkan program yang berbasis data, riset, inovasi, dan kebutuhan nyata masyarakat. Kerja sama ini harus memberikan manfaat langsung bagi pelaku IKM, meningkatkan nilai tambah produk lokal, membuka peluang usaha, serta memperkuat perekonomian masyarakat Manggarai Barat,” demikian disampaikan Kepala Dinas.

Mendorong Riset hingga Komersialisasi

Dalam pemaparannya, tim CoE CBSA menjelaskan peta jalan pengembangan pusat unggulan untuk periode 2026–2030. Tahapannya dimulai dari pembuktian konsep, riset dan pengembangan, pembuatan purwarupa, peningkatan skala, hingga komersialisasi.

Ruang lingkup pengembangannya antara lain pangan olahan bernilai tambah, diversifikasi produk UMKM, keamanan pangan dan sertifikasi, teknologi tepat guna, kemasan berkelanjutan, pemanfaatan produk samping, pengolahan limbah agro, keterlacakan digital, analisis keberlanjutan, standardisasi, inkubasi usaha, penguatan merek, serta perluasan akses pasar.

Pendekatan tersebut sejalan dengan kebutuhan Kabupaten Manggarai Barat untuk mengembangkan produk lokal agar tidak hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah, mutu yang konsisten, legalitas yang memadai, identitas yang kuat, dan mampu bersaing di pasar pariwisata maupun pasar yang lebih luas.

Kerja sama juga diarahkan untuk mendukung program SINERGI atau Skema Hilirisasi Riset Berbasis Transfer Teknologi Terintegrasi. Program ini menekankan kolaborasi riset antara perguruan tinggi dengan pemerintah maupun industri dalam bidang lintas sektor dan berjangka menengah hingga panjang.

Program SINERGI mendukung pengembangan platform teknologi, standardisasi, model bisnis, kebijakan adopsi teknologi, ketahanan pangan, digitalisasi ekonomi, penguatan rantai pasok industri, serta peningkatan nilai tambah produk strategis.

Melalui skema inovasi sosial, kolaborasi diharapkan tidak berhenti pada kegiatan penelitian, tetapi menghasilkan model inovasi yang dapat diterapkan secara berkelanjutan. Luaran program dapat berupa naskah kebijakan, standar operasional prosedur, dan teknologi tepat guna yang dibahas bersama pemangku kepentingan serta diimplementasikan di masyarakat.

Ruang Lingkup Kolaborasi

Beberapa ruang lingkup kerja sama yang mulai dibahas dalam pertemuan tersebut meliputi pendataan dan pemetaan potensi IKM, identifikasi permasalahan produksi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan produk unggulan, revitalisasi teknologi tepat guna, serta perbaikan proses produksi.

Kolaborasi juga dapat mencakup pengembangan desain dan kemasan, fasilitasi legalitas dan sertifikasi produk, penerapan sistem keamanan pangan, penguatan kelembagaan usaha, digitalisasi pemasaran, inkubasi bisnis, pembangunan merek, pengembangan akses pasar, dan penyusunan peta jalan agroindustri Kabupaten Manggarai Barat.

Selain itu, penerapan ekonomi sirkular menjadi salah satu perhatian penting. Limbah atau produk samping dari kegiatan pertanian, peternakan, perikanan, pasar, hotel, restoran, dan industri pengolahan dapat dikembangkan menjadi bahan baku baru yang memiliki nilai ekonomi.

Pendekatan ini diharapkan mampu mengurangi limbah, meningkatkan efisiensi sumber daya, menciptakan produk baru, serta membuka peluang pendapatan bagi masyarakat.

Dalam mendukung penyusunan program bersama, Disdagrin Kabupaten Manggarai Barat akan berperan dalam mengidentifikasi isu prioritas daerah, menyiapkan data awal IKM dan UMKM, memetakan komoditas unggulan dan rantai pasok, membantu menentukan lokasi serta kelompok penerima manfaat, dan memfasilitasi akses lapangan, sosialisasi, pendampingan, serta uji implementasi. Dukungan tersebut diperlukan agar program yang disusun benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan memberikan dampak terhadap perekonomian daerah.

Dua Kandidat Program Prioritas

Sebagai tindak lanjut awal, pertemuan tersebut membahas dua kandidat program prioritas dalam skema inovasi sosial untuk Kabupaten Manggarai Barat.

Kandidat pertama adalah “Mama Tangguh Bajo”, yaitu model inovasi sosial biokonversi maggot berbasis kepemimpinan perempuan untuk mendukung ekonomi sirkular IKM Labuan Bajo. Program ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan pengelolaan limbah organik sekaligus pemberdayaan perempuan agar limbah dapat diolah menjadi sumber nilai ekonomi baru.

Kandidat kedua adalah “Bajo Teknoaktif”, yaitu model inovasi sosial revitalisasi teknologi tepat guna untuk hilirisasi potensi lokal dan penguatan IKM Labuan Bajo. Program tersebut diarahkan untuk mengoptimalkan kembali teknologi tepat guna yang belum dimanfaatkan secara maksimal agar dapat mendukung produksi barang bernilai tambah dan memperkuat daya saing IKM.

Kedua kandidat program tersebut masih akan dibahas dan diperdalam melalui identifikasi masalah, pemetaan calon penerima manfaat, pengumpulan data pendukung, penentuan bentuk intervensi, serta penyusunan proposal bersama.

Tim CoE CBSA Universitas Brawijaya menyatakan kesiapan untuk mendukung Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat melalui kegiatan penelitian terapan, pengabdian kepada masyarakat, transfer teknologi, pelatihan, pendampingan, pengembangan model bisnis, dan penyusunan rekomendasi kebijakan.

Membangun Kemitraan Jangka Panjang

Inisiasi kerja sama ini diharapkan menjadi fondasi pembentukan kemitraan jangka panjang antara Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat dan Universitas Brawijaya.

Sinergi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, pelaku IKM, komunitas, dan masyarakat diharapkan mampu membangun ekosistem agroindustri yang inovatif, inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Melalui kolaborasi tersebut, potensi pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, pangan olahan, kerajinan, dan berbagai sumber daya lokal Manggarai Barat diharapkan dapat dihilirisasi menjadi produk berkualitas dan bernilai ekonomi tinggi.

Pada akhirnya, kerja sama ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kapasitas dan daya saing pelaku IKM, tetapi juga membuka lapangan kerja, memperluas kesempatan berusaha, mengurangi limbah, memperkuat ketahanan pangan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan.