Labuan Bajo, 1 Oktober 2026 — Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Manggarai Barat terus memperkuat sistem pemantauan harga sebagai instrumen deteksi dini terhadap potensi tekanan harga dan risiko inflasi daerah.
Berdasarkan hasil analisis pemantauan harga bahan pokok dan barang penting selama September 2026 di Pasar Lembor dan Pasar Batu Cermin, terdapat perbedaan tingkat volatilitas harga di kedua pasar. Rata-rata Koefisien Variasi atau KV antarwaktu tercatat sebesar 3,85 persen di Pasar Lembor dan 5,34 persen di Pasar Batu Cermin. Sementara itu, rata-rata KV antarwilayah mencapai 9,12 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa secara agregat harga di Pasar Batu Cermin selama September lebih berfluktuasi dibandingkan Pasar Lembor. Namun, Disdagrin menegaskan bahwa KV yang tinggi tidak serta-merta berarti inflasi tinggi, karena KV mengukur tingkat variasi atau volatilitas harga, bukan besaran inflasi.
Cabai, buah dan ikan menjadi perhatian
Sejumlah komoditas menunjukkan perubahan harga yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut. Di Pasar Lembor, cabai rawit merah meningkat sekitar 40 persen, sedangkan nanas tercatat meningkat 100 persen, meskipun data nanas berasal dari jumlah observasi yang lebih terbatas.
Di Pasar Batu Cermin, beberapa komoditas juga memperlihatkan kenaikan, antara lain tepung terigu Kompas sebesar 25 persen dan jeruk sebesar 25 persen. Pada saat yang sama, sejumlah komoditas justru mengalami penurunan harga cukup tajam, seperti melon, pepaya, dan semangka.
Dengan demikian, dinamika harga selama September tidak bergerak dalam satu arah. Sebagian komoditas mengalami tekanan naik, sementara sebagian lainnya mengalami penurunan.
Disparitas harga antarpasar perlu ditelusuri
Analisis Disdagrin juga menemukan adanya perbedaan harga yang cukup lebar antara Pasar Lembor dan Pasar Batu Cermin untuk beberapa komoditas.
Di antaranya adalah ikan teri dengan disparitas rata-rata 61,11 persen, pepaya 48,31 persen, cabai merah keriting 38,17 persen, cabai merah besar 36,83 persen, ikan cakalang 32,45 persen, pisang 31,48 persen, dan tahu 28,57 persen.
Perbedaan tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya masalah dalam tata niaga. Disdagrin akan menindaklanjutinya melalui verifikasi terhadap asal pasokan, volume barang masuk, biaya angkut, mutu atau grade barang, losses, margin distribusi, serta kondisi rantai pasok masing-masing komoditas.
Data harga menjadi sistem peringatan dini
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Manggarai Barat, Adrianus Ojo, S.Si., Apt., mengatakan penguatan pemantauan harga diarahkan agar pemerintah daerah tidak hanya mengetahui perubahan harga setelah terjadi, tetapi mampu membaca gejalanya lebih dini.
“Data harga harus kita ubah menjadi informasi untuk pengambilan keputusan. Kita tidak cukup hanya mencatat harga naik atau turun. Kita harus mengetahui penyebabnya: apakah karena produksi, musim, distribusi, biaya logistik, stok, mutu barang, atau faktor pasar. Dengan demikian, intervensi pemerintah dapat dilakukan secara lebih cepat dan tepat sasaran.”
Menurutnya, pendekatan tersebut akan terus dikembangkan sebagai bagian dari sistem manajemen data Disdagrin dan SIMON DAGRIN, sehingga informasi harga nantinya dapat diintegrasikan dengan data stok, pasokan, distribusi, days of cover, biaya logistik, hingga landed cost.
Dokumen analisis merekomendasikan dashboard SIMON DAGRIN untuk menampilkan harga harian, perubahan harga 1, 7 dan 30 hari, KV antarwaktu, KV antarwilayah, stok, days of cover, pasokan masuk serta gangguan distribusi.
Empat tingkat early warning
Untuk kepentingan manajemen internal, Disdagrin mengembangkan klasifikasi Hijau, Kuning, Oranye, dan Merah.
Status Hijau digunakan untuk kondisi harga relatif stabil dan pasokan normal. Kuning menunjukkan perlunya peningkatan monitoring. Oranye digunakan untuk komoditas dengan volatilitas atau disparitas tinggi yang memerlukan audit data dan rantai pasok. Sementara Merah menjadi sinyal perlunya verifikasi segera terhadap stok, distributor dan potensi gangguan pasokan.
Klasifikasi tersebut merupakan instrumen internal untuk membantu pengambilan keputusan dan bukan klasifikasi inflasi resmi BPS.
Perkuat data stok dan rantai pasok
Disdagrin juga mengevaluasi kualitas data pemantauan. Data Pasar Lembor tersedia sepanjang 30 hari, tetapi tingkat keterisian data harga masih perlu ditingkatkan. Sementara data Pasar Batu Cermin tersedia pada 24 dari 30 hari pemantauan.
Ke depan, pengumpulan data harga akan diperkuat dengan informasi stok, volume pasokan, asal barang, frekuensi kedatangan, lead time, days of cover, losses dan landed cost, agar pemerintah semakin mampu mengidentifikasi akar persoalan ketika terjadi perubahan harga.
Data Disdagrin melengkapi data resmi BPS
Disdagrin menegaskan bahwa hasil pemantauan harga tersebut tidak digunakan untuk menghitung atau menetapkan IHK dan inflasi Kabupaten Manggarai Barat.
Penghitungan IHK dan inflasi resmi tetap mengacu pada metodologi dan publikasi Badan Pusat Statistik. Data perdagangan daerah digunakan sebagai leading indicator atau indikator operasional untuk mendukung pengendalian harga, stabilisasi pasokan serta pembahasan dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Dari data menuju keputusan
Dalam 30 hari ke depan, Disdagrin merencanakan validasi komoditas prioritas, melengkapi informasi stok dan pasokan, melakukan analisis rantai pasok cabai, bawang, ikan dan buah, memetakan distributor serta pemasok, hingga mengaktifkan dashboard early warning.
Langkah tersebut diarahkan untuk membangun pola kerja:
Data → Analisis → Early Warning → Keputusan → Intervensi → Monitoring → Evaluasi.
Dengan sistem tersebut, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat diharapkan semakin memiliki kemampuan untuk mendeteksi gejolak harga lebih awal, menemukan sumber permasalahan dalam rantai pasok, serta menentukan intervensi stabilisasi harga yang lebih terukur dan berbasis data.
“Tujuan akhirnya sederhana: pasokan tersedia, distribusi berjalan baik, harga lebih stabil, dan masyarakat terlindungi dari gejolak harga yang berlebihan,” tegas Kepala Dinas.
DISDAGRIN MANGGARAI BARAT
Stabil Pasokan – Stabil Harga – Perdagangan Tumbuh – Industri Berkembang



